Abstract
Makalah ini menganalisis pembunuhan karakter yang dialami oleh Khalifah Usman bin Affan, terutama yang dilancarkan oleh Abdullah bin Saba' dan pengikutnya, dengan menggunakan kerangka kerja teoritis pembunuhan karakter (character assassination) yang dikembangkan oleh Martijn Icks dkk. Penelitian menggunakan metode studi kasus sejarah (historical case study) dengan menelaah berbagai sumber historiografis terkait peristiwa fitnah kubra pada masa kekhalifahan Usman (sekitar tahun 30–35 H). Hasil analisis menunjukkan bahwa pembunuhan karakter terhadap Usman bin Affan merupakan strategi terencana dan berjangka panjang, bukan tindakan spontan. Melalui lima pilar pembunuhan karakter: penyerang, target, media, audiens, dan konteks yang melingkupinya. Abdullah bin Saba' dan jaringannya secara sistematis menyebarkan provokasi, fitnah, dan ujaran kebencian di berbagai wilayah kekhalifahan, meliputi Kufah, Basrah, Mesir, Syam, hingga Madinah. Metode-metode yang digunakan mencakup name-calling, making allegations (tuduhan nepotisme, korupsi, dan bid'ah), fearmongering, ridiculing, hingga erasing dan disgracing pascakematian Usman. Serangan juga bersifat enthymematic, yakni membiarkan publik menyimpulkan sendiri tuduhan yang tidak pernah diucapkan secara eksplisit. Penelitian ini menegaskan relevansi kerangka teoritis Icks dkk. dalam membaca fenomena disinformasi dan destabilisasi politik dan dakwah lintas zaman.